Urgensi Pendidikan Etika bagi Semua:

Pintar, Baik dan Bermanfaat Merupakan Impian Kita Semua

Warga +62 pernah disurvey oleh Microsoft dan hasilnya sangat menyedihkan. Kita digolongkan sebagai masyarakat yang paling tidak sopan di media sosial dan media online. Begitu mudahnya netizen berkata kasar dan menyulut konflik. Padahal kita dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah. Mengapa identitas ramah tamah itu kini begitu mudah terkikis. Jika ingin menjadi warga negara yang ramah, mari kita saling mengingatkan dari lingkungan kita yang terkecil. Banjiri sosial media kita dengan nilai-nilai kebaikan, kisah inspiratif dan konten yang humanis. Ketika ada yang salah ucap kita ramai-ramai mengingatkan dan menegur dengan cara yang baik dan komunikatif. Jangan lagi ada warga negara yang mencelah bahkan mencaci maki pemimpin. Kita harus menjauhi kesesasatan berpikir seperti argumentum ad hominen (abusive). Oleh karena itu, kita perlu mendesain kembali kurikulum pendidikan etika seperti dulu kita pernah dekat dan ketat dengan Pendidikan Moral Pancasila. Kita boleh kaya raya, pintar tapi kalau kita tidak beretika, kita sama sekali tidak ada bedanya dengan primata lain yang tidak pernah dibekali petuah, petitah petitih, dan pelajaran moral dari orangtua kita. Belum terlambat untuk memperkuat itu menuju Indonesia Emas 2045.

Terkini

Sort by