Pemberdayaan UMK

Inovasi dan transformasi digital UMKM

1. Apakah Ada familiar dengan istilah “technological illiterate” atau sering disingkat dengan istilah “technological illiteracy”?Ya, istilah ini mengacu pada seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang kemajuan teknologi dan tidak mampu mengoperasikannya. Kegagalan teknis ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kondisi ekonomi, kondisi lingkungan, lokasi wilayah, dan lain-lain. Lalu apa hubungannya kegagalan teknologi dengan permasalahan UMKM? Perkembangan teknologi belakangan ini menyebabkan munculnya ekonomi digital yang memang membawa banyak manfaat bagi UMKM, tidak hanya dalam memasarkan produknya namun juga mempermudah proses produktivitas UMKM. Kehadiran channel marketplace dan media sosial semakin memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk mempromosikan produknya ke khalayak yang lebih luas. Apalagi berkat perkembangan teknologi, mulai dari akuntansi digital hingga pembayaran pajak melalui sistem aplikasi, produktivitas para pegiat UMKM menjadi lebih mudah dan efisien. Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu kendalanya adalah penyebaran informasi yang tidak merata. Negara yang menjadi penyebab munculnya virus kesenjangan teknologi ini. Selain itu, perbedaan generasi antara pelaku UMKM Gen-X dan Milenial menimbulkan jarak terkait isu UMKM ini. Ada baiknya untuk mendidik dan memberi masukan kepada para pelaku UMKM yang berusia lebih tua mengenai teknologi terkini serta para pelaku UMKM yang berusia lebih muda. Ada juga harapan bahwa orang lanjut usia akan merasa bebas untuk bertanya tentang perkembangan terkini dalam dunia bisnis. 2. Pelaku UMKM terhambat perkembangannya karena kurangnya inovasi. Pada akhirnya, banyak perusahaan yang hanya bertahan satu atau dua tahun dan gulung tikar karena penawaran produk atau jasanya tidak kuat atau kalah bersaing. Banyak UMKM di Indonesia yang tidak memperhatikan potensinya dan menjalankan usahanya hanya berdasarkan pelacakan. Tak heran jika produk UMKM lokal masih terbilang sedikit yang mampu menembus pasar internasional. Dibandingkan dengan produk serupa di luar negeri, produk UMKM Indonesia kalah bersaing baik dari segi kualitas maupun harga. Produk yang lahir dari Lala dan produk yang mengikuti tren tidak lahir dari konsep yang matang, melainkan produk sejenis yang serupa satu sama lain. Awalnya permintaan dan produk yang ditawarkan sama-sama tinggi, namun seiring berjalannya waktu permintaan menurun karena konsumen mulai bosan dengan produk serupa. Oleh karena itu, para pelaku UMKM diharapkan mampu berpikir kritis dan berinovasi dalam produksi barang dan jasa. Konsumen mempunyai banyak pilihan ketika produk yang ditawarkan serupa namun memiliki perbedaan yang signifikan. Pelaku UMKM dapat meneliti perilaku konsumen dan melakukan trial and error untuk menemukan formulasi yang tepat terhadap produk yang dihasilkannya. Perkembangan teknologi yang ada juga membuka peluang untuk mengikuti pelatihan dan workshop yang bermanfaat bagi kelangsungan usaha. Selain kualitas produk, peningkatan pelayanan juga penting khususnya bagi pelaku UMKM di bidang jasa.

Terkini

Sort by
Isma i.

Semoga umkm lebih maju dengan terpilihnya Prabowo Gibran no 2

balasan

Debbie C.

Menurut saya, respon konsumen terhadap UMKM berbeda setiap generasinya. Kalau generasi Baby Boomers dan sebagian generasi X masih lebih suka dengan pola pasar tradisional dimana transaksi dapat terlihat secara fisik. Berbeda dengan generasi Z dan Gen...

balasan

Heri S.

tidak hanya dalam memasarkan produknya namun juga mempermudah proses produktivitas UMKM

balasan

Juniar D.

Hidup Prabowo Coblos no 2

balasan

sri r.

setuju sekali

balasan

Wildan S.

UMKM lebih di pikirkan lagi perkembangan dan kemajuannya

balasan

Andy P.

Kalo boleh bikin group UMKM di setiap daerah2 agar bisa sharing2

balasan

Gunadi G.

semoga dengan pak prabowo umkm semakin maju... ✌️

balasan

Donny P.

Cocok sekali UMKM makin maju kedepannya.. insyaallah Prabowo gibran pasti bisa

balasan

Endrik Y.

Setuju pemberdayaan pelaku UMKM harus ada

balasan